Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga
Pernah nggak sih kamu denger teman curhat, “Aku baru selesai nonton The Glory, jadi sedih banget inget masa sekolah dulu”? Atau mungkin kamu sendiri sampai begadang karena penasaran dengan alur drama Korea yang penuh dengan adegan pembulian? Kalau iya, kamu pasti nggak asing dengan fenomena serbuan drakor bertema bullying yang belakangan ini benar-benar menjamur di platform streaming.
Dari The Glory, True Beauty, The Atypical Family, hingga yang terbaru Teach You a Lesson yang merupakan drakor dengan tema pembulian yang bukan cuma jadi hiburan semata. Mereka juga jadi bahan diskusi hangat di kalangan Generasi Z. Tapi, di balik daya tarik narasi yang mendebarkan dan sinematografi yang memukau, ada pertanyaan besar yang perlu kita jawab: apakah drakor bertema pembulian ini sebenarnya mengedukasi atau justru menormalisasi kekerasan, khususnya kekerasan digital?
Drakor dan Tema Pembulian: Mengapa Jadi Tren?
Kalau kita lihat, hampir semua drakor populer belakangan ini punya satu kesamaan: mereka nggak menghindari topik gelap seperti bullying. Justru, mereka menjadikannya sebagai inti cerita. Di The Glory, kita disuguhi kisah balas dendam seorang korban bullying yang sampai dewasa masih terluka oleh masa kecilnya. Di True Beauty, kita melihat bagaimana bullying berbasis penampilan bisa menghancurkan kehidupan remaja. Sementara di The Atypical Family, dampak bullying pada kesehatan mental korban digambarkan secara realistis dan menyentuh.
Fenomena ini nggak lepas dari fakta bahwa bullying memang isu sosial yang masih relevan, terutama di era digital. Generasi Z, yang lahir di era internet, lebih besar peluangnya mengalami bullying melalui media sosial. Jadi, ketika drakor mengangkat topik ini, penonton muda merasa terhubung secara emosional. Mereka nggak cuma nonton, tapi juga merasa “terwakili”.
Sisi Positif: Drakor sebagai Media Edukasi
Di satu sisi, drakor bertema bullying punya peran edukatif yang nggak bisa diabaikan. Drama seperti The Glory berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk bullying terhadap kesehatan mental korban. Banyak penonton yang setelah nonton mulai lebih peka terhadap tanda-tanda bullying di sekitar mereka, bahkan sampai berani lapor ke pihak sekolah atau guru.
Selain itu, drakor juga sering menyajikan narasi bahwa bullying bukan hal yang “wajar” atau “semau-maunya”. Di The Atypical Family, misalnya, kita melihat bagaimana korban bullying mengalami depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan motivasi belajar. Narasi ini penting karena manyangkal stigma bahwa bullying cuma “main-main anak sekolah” yang nggak bawa dampak serius.
Lebih jauh, drakor juga bisa jadi alat untuk membuka diskusi tentang peran sistem dalam melindungi korban. Di banyak drakor, kita melihat bagaimana sekolah, guru, atau bahkan keluarga gagal melindungi korban bullying. Ini memicu refleksi: “Kalau di drakor sistemnya gagal, kenapa di kehidupan nyata kita nggak pernah coba perbaiki?”
Sisi Negatif: Normalisasi Kekerasan yang Tersembunyi
Tapi, di sisi lain, ada risiko besar yang nggak bisa kita abaikan: drakor bertema bullying berpotensi menormalisasi kekerasan, terutama kekerasan digital. Meskipun drakor menampilkan bullying sebagai hal yang “buruk”, cara penyajiannya yang dramatis, penuh konflik, dan kadang sampai “glamourisasi” bisa membuat penonton muda, khususnya Gen Z, menganggap bullying sebagai bagian wajar dari kehidupan sekolah.
Bayangkan saja: kalau di drakor adegan bullying selalu ditampilkan dengan sinematografi yang indah, musik yang mendramatisir, dan karakter yang “keren” meski jadi pelaku, siapa yang nggak bisa terbawa emosi? Altiernasi ini bisa menyebabkan imitasi perilaku agresif, terutama pada remaja yang belum punya filter kuat. Mereka mungkin nggak sadar bahwa apa yang mereka lihat di drakor bisa jadi “contoh” untuk perilaku mereka di dunia nyata, terutama di media sosial.[
Dan yang lebih parah, di era digital, bullying nggak cuma terjadi di sekolah, tapi juga di platform seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Generasi Z, yang lebih besar terpapar bullying digital, bisa jadi lebih rentan terhadap trauma kolektif jika narasi drakor nggak disertai kritik media aktif. Mereka bisa jadi percaya bahwa bullying digital adalah “konflik dramatis yang wajar”, bukan kekerasan yang harus dihentikan.
FoMO dan Penurunan Produktivitas
Selain dampak pada perilaku, ada satu efek samping lain yang sering nggak disadari: FoMO (Fear of Missing Out). Banyak penggemar drakor Korea, terutama Gen Z, mengalami FoMO akibat keasikan nonton drakor sampai begadang, diskusi di TikTok, atau ikutWatching party virtual. Akibatnya, konsentrasi mereka terganggu, dan produktivitas menurun.
Ini bukan cuma soal “begadang karena nonton”. FoMO juga bisa menyebabkan tekanan sosial: “Kalau nggak nonton drakor yang lagi viral, aku bakal dikucilkan dari grup.” Kondisi ini, ditambah narasi drakor yang penuh konflik emosional, bisa meningkatkan kecemasan dan bahkan depresi pada sebagian penonton muda.
Solusi: Literasi Media, Bukan Sekedar Larangan
Pertanyaan besar yang muncul: bagaimana kita bisa memanfaatkan sisi positif drakor tanpa mengabaikan risiko negatifnya? Jawabannya sederhana, tapi nggak gampang: literasi media.
Bukan soal melarang Gen Z nonton drakor. Itu justru nggak efektif dan bisa bikin mereka makin penasaran. Yang perlu kita lakukan adalah membekali mereka dengan kemampuan memaknai narasi drakor secara kritis. Misalnya, setelah nonton The Glory, diskusi bisa dimulai dengan pertanyaan: “Apa yang bikin sistem gagal melindungi korban? Apa yang bisa kita lakukan di kehidupan nyata untuk mencegah hal serupa?”
Lembaga pendidikan, guru, bahkan orang tua, punya peran penting dalam ini. Mereka bisa jadi fasilitator diskusi kritis tentang drakor, bukan sebagai “penghakim” yang menyalahkan, tapi sebagai “pemandu” yang membantu Gen Z memaknai narasi secara lebih bertanggung jawab.
Pemerintah juga bisa terlibat dengan mengembangkan program literasi media spesifik yang mengkritik narasi drakor pembulian. Misalnya,through kampanye di TikTok atau Instagram yang mengajak Gen Z diskusi tentang dampak bullying digital, bukan cuma seputar “nonton drakor apa lagi sih?”
Kesimpulan: Drakor Bisa Jadi Alat, Bukan Judul
Drakor bertema bullying bukan sekadar hiburan. Mereka adalah agen pembentukan norma sosial yang bisa jadi alat edukasi atau justru merusak sikap Gen Z, tergantung bagaimana kita mengonsumsi dan memaknai mereka.
Di tangan Gen Z yang kritis, drakor bisa jadi alat untuk membuka diskusi tentang kekerasan digital, meningkatkan empati, dan mendorong perubahan sistem. Tapi, di tangan Gen Z yang konsumsi tanpa filter, drakor bisa jadi sumber normalisasi kekerasan, penurunan empati, dan bahkan imitasi perilaku agresif.
Jadi, sebelum kamu begadang lagi nonton drakor terbaru, coba tanya diri sendiri: Aku nonton ini untuk hiburan, atau untuk belajar? Kalau jawabannya keduanya, pastikan kamu nggak cuma “terbawa emosi”, tapi juga “terbuka pikiran”. Karena di akhir hari, drakor cuma alat. Kita yang menentukan apakah alat ini jadi berdaya atau justru merusak.
Dan ingat: bullying digital bukan “konflik dramatis yang wajar”. Itu adalah kekerasan yang harus dihentikan. Jadi, kalau kamu nonton drakor tentang bullying, jangan cuma jadi penonton pasif. Jadilah agen perubahan yang berani, berani diskusi, dan berani berhenti daripada ikut-ikutan.
Karena Generasi Z bukan cuma generasi yang nonton drakor. Mereka adalah generasi yang bisa mengubah dunia, kalau mereka mau. *





