wartadigital.id
Headline Nasional

Cegah Masuknya Varian Mu, Pemerintah Diminta Perketat Pintu Masuk Internasional

Pintu-pintu masuk internasional harus menjadi saringan atau filter yang paling efektif mencegah masuknya varian Mu ke Indonesia.

 

JAKARTA (wartadigital.id)  – Penerapan PPKM Darurat yang kemudian dilanjutkan dengan PPKM berlevel dinilai memberi hasil yang cukup signifikan. Saat ini, kasus Covid-19 secara nasional cenderung turun, termasuk tingkat hunian di rumah sakit serta tingkat kematian. Namun, bukan berarti ancaman telah hilang. Pasalnya kemunculan varian baru, yaitu varian Mu atau B B.1.621 yang dikhawatirkan bisa lebih menyiasati vaksin dan harus segera diwaspadai.

Anggota DPD RI Fahira Idris mengatakan agar situasi wabah yang sudah mulai membaik tetap terjaga, harus segera diformulasikan dan diterapkan strategi mencegah masuknya varian Mu ke Indonesia.

Menurut Fahira saat ini momentum yang sangat baik bagi Pemerintah untuk lebih fokus memformulasikan strategi yang komprehensif mencegah semaksimal mungkin masuknya varian Mu. Selain itu, yang juga penting adalah menyusun skenario yang efektif jika varian ini berhasil masuk ke Indonesia untuk mencegah terjadi lonjakan kasus seperti yang baru saja dialami Indonesia akibat varian Delta. “Jangan sampai kita kecolongan lagi seperti varian Delta yang mengakibatkan lonjakan kasus yang tinggi. Hemat saya, lonjakan kasus kemarin jadi pelajaran berharga baik bagi Pemerintah maupun masyarakat untuk siap dalam mencegah masuknya varian Mu ini. Pintu-pintu masuk harus menjadi saringan atau filter yang paling efektif mencegah masuknya varian Mu ini,” ujar Fahira Idris di Komplek Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (9/9/2021).

Artinya pintu masuk internasional terutama udara dan laut harus diperketat sejak sekarang. Sekali lagi semua pihak harus belajar dari masuknya varian Delta yang mengakibatkan Indonesia mengalami gelombang kedua.

Menurut Fahira, walau kasus saat ini sudah mulai turun dan program vaksinasi sudah berjalan tetapi belum saatnya bereuforia. Banyak negara yang merasa sudah aman melonggarkan aturan pembatasan bahkan melepaskan kewajiban memakai masker, kini mengalami lonjakan kasus.

Turunnya kasus juga bukan berarti tes dan lacak juga turun, justru harus lebih dioptimalkan agar positivity rate bisa turun hingga di bawah 5 persen sesuai standar WHO. “Intinya adalah jangan sampai terjadi lagi lonjakan kasus seperti Juli kemarin yang mengakibatkan rumah sakit dan nakes kewalahan, tingkat kematian naik, serta menimbulkan berbagai dampak misalnya kelangkaan oksigen. Jangan sampai turunnya kasus kasus positif saat ini membuat kita terlena apalagi euforia. Saya harap kita semua terutama para pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan mengedepankan sikap waspada dan antisipatif,” tandas Fahira Idris.

Dalam laporan epidemiologinya, organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menambahkan varian Mu atau B.1.621 dalam kategori varian baru yang jadi perhatian (variant of concern). Varian tersebut disebut memiliki mutasi yang menunjukkan risiko resistensi terhadap vaksin, dan menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahaminya.

Varian yang awalnya ditemukan di Kolombia pada awal tahun saat ini telah dilaporkan di beberapa bagian Amerika Selatan dan Eropa. WHO mengatakan, prevalensi globalnya telah menurun hingga di bawah 0,1, tetapi di Kolombia mencapai 39 persen dan Ekuador 13 persen dengan tren meningkat.

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengatakan bahwa varian Mu atau B 1621 saat ini masih belum ditemukan di Indonesia, namun hal tersebut harus diantisipasi. Dia mengatakan salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memperketat pintu masuk Indonesia. “Saya kira sementara ini memang diperketat saja pintu masuknya supaya mereka yang masuk kalau memang nanti membawa varian baru itu sudah bisa dicegah lebih awal. Baik di lapangan udara maupun di pintu laut, itu semua dilakukan pengetatan-pengetatan. Jadi arahnya kepada itu,” ujarnya saat meninjau pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) dan vaksinasi di Kabupaten Bogor, Kamis (9/9/2021).

Namun begitu dia menilai tidak hanya mengantisipasi dari luar Indonesia saja tapi juga dari dalam juga perlu dipersiapkan. Salah satunya adalah dengan memperketat protokol kesehatan (prokes). “Kemudian juga dengan testing, tracing. Dan terus untuk melakukan penelusuran kepada mereka yang terpapar. Sehingga tidak ada lagi yang tidak tertangani dengan baik,” tuturnya.

Selain itu dia mengatakan bahwa upaya percepatan vaksinasi juga menjadi kunci penting untuk mengantisipasi varian baru. “Itu game changernya. Karena itu kita terus lakukan upaya-upaya percepatan,” katanya. set, rmo

Related posts

Amerika Frustasi Lihat Kegagalan Afghanistan Hentikan Taliban

redaksiWD

Realisasi Penerimaan Pajak DJP Jatim Triwulan 1 2021 Rp 9,06 Triliun

redaksiWD

Anak Usaha Surge Teken MoU dengan Lintasarta dan Trans Hybrid Communication

redaksiWD