
SURABAYA (wartadigital.id) – Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) kembali berlayar untuk memberikan layanan kesehatan di pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumenep. Terdapat sepuluh pulau menjadi sasaran kegiatan yang akan berlangsung sejak 14 Mei hingga 10 Juli 2022 tersebut.
Pembukaan acara ini langsung dihadiri oleh gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa beserta jajaran pimpinan Unair. Agendanya bertajuk Airlangga Community Development Hub (ACDH). Pelayanan kesehatan itu turut diikuti oleh beberapa fakultas di Unair, termasuk Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM). Upaya ini di lakukan oleh Airlangga Community Development Hub (ACDH) dalam rangka mensupport sustainable development goals (SDGs) di area Good Health and Well-Being, Affordable and Clean Energy, Innovation and Infrastructure.
Dalam ACDH ini, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) mengirimkan perwakilan lima dosen dan empat mahasiswa dalam giat tersebut. Pihak FTMM mengaku menemukan hal menarik di Kapal RSTKA yang digunakan berlayar.
Menurut dosen yang turut serta dalam kegiatan tersebut, Yoga Uta Nugraha, kapal RSTKA telah dilengkapi dengan sistem Solar Panel untuk supply sebagian kebutuhan listrik kapal. Namun, kapasitas listrik yang dihasilkan belum mencukupi seluruh kebutuhan daya listrik. “Jika kapasitas ditingkatkan maka space tidak mencukupi dengan kondisi kapal saat ini,” jelas Yoga dalam siaran pers, Kamis (2/6/2022).
Di sisi lain, sambung Yoga, potensi angin ketika kapal dalam posisi sandar dan berlayar menjadi peluang besar untuk dikonversi menjadi energi listrik. Utamanya sebagai penambah supply kebutuhan listrik dan mengurangi penggunaan mesin diesel genset dengan harga solar industri yg cukup tinggi.
Pembangkit Listrik Tenaga Kitiran (PLTk) merupakan usulan yang dicetuskan oleh dr Agus untuk teknologi kincir angin sederhana guna mewujudkan mimpi kapal RSTKA yang ramah lingkungan. Merespons hal ini, FTMM sebagai fakultas teknik memiliki engineer kompeten yang dapat mewujudkan mimpi tersebut.
“Kami tim dari FTMM berkomitmen untuk dapat mengaplikasikan PLTk di Kapal RSTKA. Hal ini akan menjadi salah satu focus dan target kami supaya segera dapat diterapkan di RSTKA,” jelas Yoga.
Untuk memaksimalkan pemahamaan masyarakat, tim dosen dan mahasiswa FTMM menyosialisasikan ketiga produk FTMM tersebut ke masyarakat. Penyampaian paparan tersebut diwakili oleh Yoga Uta Nugraha ST, MT, Rizki Putra Prastio S Si, MT, dan Prisma Megantoro ST, MT, dan Dr Moh Ghani MSi. Tim FTMM merupakan gabungan dari prodi S1 Teknik Elektro, S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan dan S1 Teknologi Sains Data.
Masyarakat setempat sangat antusias mendapatkan paparan sosialisasi tersebut. Diskusi sangat menarik dilakukan bersama masyarakat di Pulau Gili Iyang. Para petani tambak udang juga meminta tim FTMM dapat memberikan solusi pada para petani udang berbasis EBT, khususnya solar energy engineering.
Pengimplementasian AirFeel
Sementara itu, Prof Dr Retna Apsari MSi selaku Wakil Dekan III FTMM menyampaikan produk hasil riset stasiun cuaca yang bernama AirFeel yang dapat diaplikasikan di RSTKA sebagai informasi dan monitoring daring secara real time. Informasi itu terkait kondisi radiasi sinar matahari, kelembaban udara, kecepatan angin dan suhu sekitar. Alat tersebut sebagai salah satu output program Matching Fund -Kedaireka tahun 2021.
Nantinya data-data tersebut akan sangat bermanfaat sebagai informasi tambahan bagi nahkoda kapal dalam mengarungi lautan. Terlebih dengan dukungan internet satelit di kapal RSTKA, maka data dari stasiun cuaca AirFeel juga dapat diakses secara real time dan presisi.
“Kerjasama antara RSTKA dan FTMM akan terus berlanjut guna mendukung pelayanan kesehatan dengan teknologi ramah lingkungan. Hal ini karena FTMM diciptakan sebagai pilar keempat Unair bidang engineering yang fokus pada bidang teknologi maju dan ramah lingkungan serta bersifat multi disiplin,” pungkasnya. nti