Moncer, Kontingen Robotika Unair Sabet Juara 3 di KRI 2024

Kontingen Unair dalam KRI terdiri dari sejumlah mahasiswa TRKB FTMM. Tampak mereka tengah mendemokan robot pemilah dan pendeteksi sampah, Senin (8/7/2024).

 

SURABAYA (wartadigital.id) –  Meski terbilang fakultas baru, namun prestasi mahasiswa FTMM (Fakultas Teknologi dan Multi Disiplin) Unair sangat membanggakan. Terbaru, kontingen mahasiswa Unair, Tim Astro 24 berhasil meraih Juara 3 Kontes Robot Indonesia (KRI) 2024. Acara tahunan  Pusat Prestasi Nasional itu diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 1 hingga 5 Juli 2024.

Bacaan Lainnya

Dekan FTMM Prof Dr Dwi Setyawan SSi, MSi, Apt mengaku bangga atas capaian kontingen FTMM. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (TRKB) FTMM  adalah program studi dengan ilmu yang implementatif dan siap menjawab tantangan masa depan.

“Prodi TRKB ini adalah salah satu program studi yang implementatif untuk menjawab tantangan ke depan. Robot yang diciptakan ini kan sebagai hasil belajar menjawab tantangan ke depan. Jadi Alhamdulillah adik-adik ini sudah menunjukkan hasil pembelajaran,” ujarnya saat konferensi pers FTMM Ciptakan Robot Pemilah dan Pendeteksi Sampah di ruang rapat lantai 10 FTMM, Senin (8/7/2024).

Ikut hadir dalam acara konferensi pers tersebut,  Wakil Dekan II FTMM Unair Dr Imron Mawardi SP, MSi , Wakil Dekan III FTMM Unair Prof Dr Retna Apsari MSi, dan Koordinator Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan Purbandini SSi, MKom.

Dekan FTMM Prof Dr Dwi Setyawan SSi, MSi, Apt

 

Dijelaskan Prof Dwi, dengan semakin bertumbuhnya FTMM, pihaknya menargetkan agar mahasiswa tidak saja berkompetisi di level nasional, tetapi juga merambah ke kancah internasional. “Karena kita angkatannya sudah lengkap, pembelajarannya lengkap, tentu target kita berprestasi tidak hanya nasional tapi juga internasional,” katanya.

Untuk diketahui FTMM didirikan pada November 2019 dengan memiliki 5 program studi berjenjang S1, yakni Teknik Elektro, Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Teknik Sains Data, Teknik Industri, dan Rekayasa Nanoteknologi. Pada wisuda periode 241 Unair pada 3 Maret 2024 lalu, menjadi momen pertama FTMM dalam melahirkan alumninya. Pada periode wisuda ini, FTMM resmi meluluskan sebanyak 45 wisudawan yang terdiri dari 12 wisudawan Rekayasa Nanoteknologi, 11 wisudawan Teknik Elektro, 11 wisudawan Teknik Industri, 1 wisudawan Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, dan 10 wisudawan Teknologi Sains Data.

Sementara itu kontingen Unair dalam KRI terdiri dari sejumlah mahasiswa TRKB FTMM. Mereka adalah Affa Ndaru Rabbany Wijaya, Wisnu Imam Satrio, Zinadine Zidan Alsyahana, dan Stevanus Saut Hamonangan Gultom sebagai tim inti. Selain itu, ada pula manajer, Jasmine Adlina Hapsari, serta tim support Jeffrey Nobel Martin, Wildan Fauzi, Muhammad Jundi Al Ghifari, dan Khalisa Zahra Maulana.

Stevanus menerangkan dalam lomba tersebut, Tim Astro 24 bersaing pada divisi Kontes Robot Tematik Indonesia (KRTMI). Kontes tersebut mengusung tema permasalahan sampah. Tim Astro 24 menciptakan dua robot, Apin dan Acil, yang masing-masing memiliki fungsi khusus. Sedangkan proses pengembangan robot membutuhkan waktu 6 bulan.

“Apin, robot autonomous, dilengkapi dengan kamera untuk mendeteksi dan memilah sampah berdasarkan jenisnya. Jadi robot bisa memilah sampah kertas, sampah logam tergantung kecerdasan buatan yang kita tanam. Sementara itu, Acil adalah robot manual yang digunakan untuk mendistribusikan sampah,” jelas Stevanus yang hadir mewakili tim.

Proses menuju kemenangan tersebut tidaklah mudah. Stevanus, salah satu anggota tim, mengatakan bahwa tim harus melalui berbagai tahapan seleksi. Mulai dari seleksi dokumen, seleksi wilayah, hingga seleksi nasional.

Pada tahap nasional, tim mendapatkan tantangan untuk membuat dua robot yang dapat bekerja sama dalam memilah dan mendistribusikan sampah. Tantangan terbesar mereka adalah beradaptasi dengan kondisi lapangan di lokasi lomba dengan yang diinformasikan sebelumnya.

“Saat inspeksi lapangan, kami menemukan banyak perbedaan, seperti tinggi conveyor yang berbeda dan getaran yang tidak stabil. Kami harus cepat beradaptasi dengan situasi ini. Selain itu, kami juga mengalami kerusakan teknis di tes pertama, dan harus memperbaikinya hanya dalam waktu 30 menit,” ungkap Stevanus.

Kemampuan Tim Astro 24 untuk beradaptasi dengan cepat dan memperbaiki robot mereka di tengah tekanan waktu menunjukkan keunggulannya dalam menghadapi tantangan. Walaupun dengan jumlah anggota lebih sedikit daripada tahun lalu, Tim Astro 24 berhasil membuat ukuran robot yang lebih besar.

“Tahun ini, kami hanya bersembilan dan diminta membuat dua robot dengan dimensi 80×90 cm, yang salah satunya harus full autonomous. Ini sangat menantang karena kami harus membuat robot baru dari awal tahun ini,” paparnya.

Dia berharap agar prestasi yang ia torehkan bersama tim dapat terus meningkat. “Harapan kami, torehan prestasi ke depannya bisa meningkat dan selalu membanggakan FTMM serta Universitas Airlangga,” imbuhnya. nti

Pos terkait