wartadigital.id
Headline Kesehatan

Pakar Psikolog Unair Sebut Ghosting Berhubungan Erat dengan Kognitif dan Mental

Ilham Nur Alfian, MPSi

SURABAYA (wartadigital.id) – Akhir-akhir ini, media sosial ramai dengan perbincangan tentang fenomena pemutusan komunikasi sepihak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu atau lebih dikenal dengan istilah ghosting.  Kabarnya, fenomena tersebut kerap dilakukan oleh pemuda terhadap pasangannya. Istilah ghosting popular setelah kisruh putusnya jalinan asmara putera Presiden Jokowi, Kaesang Pengarep dengan Felicia Tissu ramai di medsos.

Dari segi psikologis, Dosen Fakultas Psikologi (FPSi) Unair Ilham Nur Alfian, M.PSi mengatakan bahwa fenomena ghosting adalah fenomena yang wajar dalam proses komunikasi di sebuah relasi. Baginya, fenomena tersebut telah ada bahkan sebelum adanya pola komunikasi media sosial. Perkembangan teknologi informasi memiliki pengaruh besar terhadap model-model media sosial dan fenomena ghosting apalagi dalam situasi pandemi.

“Jadi ada situasi memang ketika orang itu kemudian memutus hubungan atau komunikasi karena ada beberapa sebab. Bisa jadi sebabnya itu salah satunya sudah nggak merasa nyaman lagi berkomunikasi atau menjalin hubungan dengan partnernya,” tutur dosen yang memiliki keahlian bidang asesmen komunitas dan analisis sosial tersebut, Senin (15/3/2021).

Situasi pandemi, sambungnya, memiliki pengaruh tersendiri dalam pola komunikasi dengan adaptasi baru. Permasalahan ghosting dapat muncul begitu saja dalam situasi ini. Hal tersebut karena orang-orang merasa tidak ada sesuatu yang bervariasi dalam proses interaksi jika tidak dilakukan secara langsung.

Ilham menuturkan bahwa para korban ghosting sebenarnya akan lebih mudah beradaptasi. Hanya saja perlu diwaspadai adanya kompensasi, jika pernah menjadi korban bisa jadi ada keinginan untuk menjadi pelaku. “Mungkin itu tapi bukan karena trauma. Tapi cuma ingin membalas begitu saja sebenarnya. Jadi siklusnya jadi pelaku bisa jadi, unsur traumatiknya sebenarnya nggak,” tutur Ilham.

Umumnya, lanjut Sekjen Ikatan Psikologi Sosial (IPS) Indonesia itu, peluang atau risiko korban ghosting merasa menyalahkan dirinya sendiri. “Karena pasti mereka merasa pasanganku atau relasiku karena aku. Nah justru aspek-aspek semacam itu dihilangkan. Jadi untuk korban ghosting seharusnya tidak menyalahkan dirinya sendiri. Anggap saja itu adalah kognitif, situasi semacam ini adalah situasi yang umum, yang wajar dalam sebuah relasi,” tambahnya.

Yang terpenting untuk korban ghosting adalah tetap menumbuhkan kepercayaan bahwa ada orang-orang yang lebih baik dari pasangan terdahulu yang membuat dia menjadi korban. Hal itu dilakukan dengan cara mencari dukungan dari keluarga atau orang-orang terdekat yang memang selama ini bisa memberikan support.

Ilham menjelaskan bahwa harus dipahami bahwa fenomena ghosting adalah fenomena umum dalam komunikasi. Harus siap secara mental dan kognitif dalam komunikasi virtual. termasuk dalam banyak varian yang lebih menyenangkan. “Harus siap dengan model-model interaksi virtual. Peluang cepat merasa jenuh pasti ada. Dalam konteks virtual komunikasi, variasi dengan mencari (relasi, Red) yang baru atau lain lebih besar. Aspek atraktifnya cenderung lebih banyak,” pungkasnya. fin, ttw

Related posts

ICW Minta KPK Tak Pandang Bulu Usut Koruptor di Ditjen Pajak

redaksiWD

Antisipasi Mudik Idul Adha, Wagub Emil Tinjau Operasi Lalu Lintas di Jembatan Suramadu

redaksiWD

Ketua TP PKK Jatim Apresiasi Peran Ibu dalam Keluarga di Masa Pandemi

redaksiWD