
PROBOLINGGO (wartadigital.id) – Kelompok Tani (Poktan) Masa Baru Desa Jatisari Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo mulai mengembangkan pemanfaatan bahan organik lokal sebagai solusi menjaga kesehatan tanah pertanian menghadapi musim penghujan.
Salah satunya dilakukan melalui praktik pembuatan asam humat plus Trichoderma sp berbahan dasar eceng gondok. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama tim Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kuripan di rumah Ketua Poktan Masa Baru Karsan, Senin (14/9/2026).
Praktik itu melibatkan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Perkebunan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya Ika Ratmawati dan POPT Pangan Hortikultura. Petani mendapatkan pemahaman sekaligus praktik langsung mengolah bahan yang mudah ditemukan di sekitar menjadi pembenah tanah.
POPT Perkebunan dari BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati mengatakan eceng gondok dapat diolah menjadi asam humat yang memiliki peran dalam memperbaiki kondisi tanah. Penggunaan asam humat yang dikombinasikan dengan Trichoderma sp juga dinilai dapat membantu menghadapi risiko patogen tular tanah yang berpotensi meningkat saat musim penghujan.

“Pembenah tanah ini berfungsi memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi tanah secara alami dengan memanfaatkan tanaman liar di perairan, yaitu eceng gondok yang diproses sehingga menjadi asam humat,” katanya.
Menurut Ika, tanah tidak hanya membutuhkan unsur hara, tetapi juga karbon untuk menjaga kualitasnya. “Asam humat dari bahan organik dapat membantu memperbaiki kondisi tanah agar lebih gembur,” jelasnya.
Sementara penambahan Trichoderma menjadi bagian dari upaya pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan patogen tular tanah. “Aplikasi asam humat plus Trichoderma sebaiknya di awal saat olah lahan sebagai bentuk upaya imunisasi dini pada lahan pertanian,” ujarnya.
POPT Pangan Hortikultura Wilayah Kecamatan Kuripan Panji Ramadan menambahkan, asam humat dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, termasuk menjaga keseimbangan pH serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan unsur hara.

“Dengan struktur tanah yang kembali gembur, akar tanaman dapat menyerap nutrisi dengan lebih efisien, sehingga hasil pertanian pun meningkat,” katanya.
Dalam praktik itu, petani memanfaatkan 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram limbah kulit nanas, 250 mililiter EM4, 250 mililiter molase, 10 liter air dan 1 ons jamur Trichoderma sp.
“Seluruh bahan dicampurkan dalam wadah untuk menjalani proses fermentasi sekitar 30–60 hari. Setelah fermentasi selesai, cairan hasil pengolahan dapat diencerkan sebelum diaplikasikan ke lahan,” kata dia.
Panji menjelaskan, larutan yang telah jadi dapat digunakan sebagai pembenah tanah dengan pengenceran sekitar 10 mililiter cairan untuk setiap satu liter air. “Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara dikocorkan ke lahan,” tambahnya.

Sementara PPL Desa Jatisari Agus Suryanto mengapresiasi praktik tersebut. Kegiatan semacam ini memberikan alternatif bagi petani untuk mengatasi persoalan pertanian dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah diperoleh.
“Inovasi sederhana ini bentuk upaya memperbaiki produktivitas pertanian yang tidak selalu membutuhkan biaya besar. Kita harapkan pendekatan seperti ini terus dilakukan, agar petani bisa menemukan solusi atas masalah pertanian mereka sendiri melalui praktik yang mudah dan aplikatif,” ujarnya.
Ketua Poktan Masa Baru Karsan berharap inovasi tersebut dapat mendorong kelompok tani semakin mandiri dalam menjaga kesehatan tanah dan mengembangkan praktik pertanian yang ramah lingkungan.
“Kemandirian poktan menjadi contoh nyata bahwa solusi pertanian tidak selalu bergantung pada teknologi mahal, tapi bisa juga dimulai dari inovasi lokal yang sederhana dan ramah lingkungan,” harapnya.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan pembenah tanah sekaligus menunjukkan bahwa bahan organik yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi pertanian.
Melalui praktik tersebut, Poktan Masa Baru Desa Jatisari Kecamatan Kuripan didorong untuk terus mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal guna mendukung pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. pbo, oli





