PPDB Gresik 2026, Bidik Pengembangan Wisata Mangrove Berbasis Teknologi di Ujung Pangkah

Suasana pengabdian masyarakat UNAIR dengan skema PPDB di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, Sabtu (17/10/2026).

GRESIK (wartadigital.id) – Tiga fakultas Universitas Airlangga (UNAIR) serta Lembaga Ilmu Hayati, Teknologi dan Rekayasa  (LIHTR) untuk pertamakalinya menggelar pengabdian masyarakat dengan skema PPDB di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, Sabtu (17/10/2026).

Tiga fakultas itu adalah  Fakultas Sains dan Teknologi (FST),  Fakultas Teknologi Maju dan Multidisipplin (FTMM), Fakultas Vokasi (FV).

Bacaan Lainnya

Pengabdian masyarakat ini membidik pengembangan destinasi wisata mangrove untuk  mendukung ekonomi berkelanjutan di Desa Pangkahkulon khususnya dan Kabupaten Gresik pada umumnya. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian SDGs khususnya pada aspek kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, energi bersih, pertumbuhan ekonomi, aksi iklim serta perlindungan ekosistem pesisir.

Tim PPDB Gresik 2026 dipimpin Prof Dr Ir Retna Apsari MSi, IPM, ASEAN Eng yang juga Dekan FTMM UNAIR dan diterima Sekretaris Desa Pangkahkulon, Fathur Rozi SIP di Balai Desa setempat.

Prof Retna mengatakan Desa Pangkahkulon yang berada di kawasan pesisir memiliki potensi ekosistem mangrove yang cukup luas dan bernilai strategis secara ekologi dan ekonomi. “Ini yang mendasari kami dari UNAIR tertarik ikut mengembangkan wisata mangrove di Desa Pangkahkulon. Pengembangan destinasi wisata mangrove yang kami garap nanti berbasis pada renewable energy dan Internet of Things (I0T) untuk mendukung ekonomi berkelanjutan di wilayah setempat dan Gresik,” katanya.

Prof Retna mengatakan kehadiran UNAIR di Desa Pangkahkulon juga untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan mitra lokal dalam pemanfaatan teknologi manajemen wisata, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penguatan ekonomi lokal.

Sesi foto bersama undangan dan Tim PPDB Gresik 2026.

Dalam kesempatan itu, Prof Retna juga presentasi mengenalkan UNAIR dan FTMM ke undangan yang hadir. Sehingga undangan yang berasal dari berbagai latar belakang di antaranya Pokdarwis, Karang Taruna, tokoh masyarakat, tokoh agama, PKK, pengelola wisata mangrove, perangkat desa bisa mengenal visi misi UNAIR, prodi-prodi yang ada dan jejaring kampus yang sudah berjalan.

Fathur Rozi mewakili Desa Pangkahkulon menyambut baik kedatangan UNAIR. Dia berharap, kedatangan hari ini adalah awal pertemuan, dan ke depannya kerjasama itu bisa terus ditingkatkan.

Dia menjelaskan Desa Pangkahkulon memiliki dua wisata mangrove.  Lewean dan Pulau Cisiu.   “Lewean berada di bibir muara Sungai Bengawan Solo, itu sudah jalan. Destinasi yang di Pulau Cisiu belum launching. Kami berharap tim UNAIR bisa bersinergi membantu dalam pengembangan wisata mangrove di desa kami,” katanya.

Optimalisasi Potensi Wisata

Pemaparan materi dari FV dan FST.

Dalan kegiatan itu, juga ada penyampaian materi dari tiap fakultas yang produk dan idenya akan diimplementasikan di lapangan, setelah melakukan diskusi dengan warga setempat.

Dr Moch Affandi SSos, MSi dari FST menyampaikan paparan ‘Optimalisasi  dan Optimisme Pengembangan Mangrove Ujung Pangkah sebagai  Destinasi Wisata Hijau di Kabupaten Gresik’.

Menurut Affandi, mangrove memiliki manfaat sangat besar dalam kehidupan manusia.  Mangrove bukan hanya menjadi bentang alam  yang melindungi pesisir, tetapi juga berperan dalam perlindungan pantai, penyerap karbondioksida, menyediakan oksigen .“Yang tak kalah pentingnya mangrove memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai  destinasi wisata hijau, ekowisata hingga edukasi lingkungan,” katanya.

Pemaparan materi dari FTMM.

Sementara Dr Sri Endah Nurhidayati SSos, MSi  dari FV menyampaikan materi “Optimalisasi Potensi Wisata Mangrove sebagai Pendukung Wisata Berkelanjutan di Kabupaten Gresik’.

Dikatakan Endah pengembangan wisata mangrove masih dihadapkan sejumlah tantangan. Di antaranya  hanya menawarkan spot foto, kurang aktivitas wisata, minim interpretasi edukatif, belum terintegrasi dengan ekonomi lokal, belum memanfaatkan ekonomi digital.

“Jika pengelolaan wisata masih seperti ini, wisawatan cepat bosan, lama tinggal jadi rendah, imbasnya pengeluaran mereka di lokasi wisatra sedikit. Coba kalau mereka tinggal agak lama, wisatawan butuh makan, minum, beli cinderatama. Cuan mengalir dan UMKM mendapat berkah. Tantangan ini yang harus diatasi jika ingin pengembangan wisata mangrovenya berjalan optimal,” katanya.

Sementara Dr Yoga Uta Nugraha ST,MT dari FTMM menyampaikan materi “Peran PLTS Hybrid dan Sepeda Listrik serta FTMM dalam Mendukung Pariwisata Mangrove di Kabupaten Gresik”.  Yoga menjelaskan bahwa produk-produk  FTMM sudah banyak diimplementasikan ke masyarakat. Mulai pemasangan PLTS untuk mendukung pertanian, agrobis hingga perikanan. Juga hadirnya sepeda listrik di lokasi-lokasi wisata. “Desa Pangkahkulon sudah punya modal wisata yang kuat. Kalau ada yang dibutuhkan masyarakat, prinsipnya kami siap membantu. Misalnya butuh PLTS atau  perahu listrik wisata, secara teknis semua bisa direalisasikan setelah melihat medan yang ada,” katanya.

Suasana FGD untuk mendapatkan umpan balik pelaksanaan.

Sedangkan Rizki Putra Prasetyo SSi, MT dari FTMM memaparkan “Wisata Berbasis Renewable Energy serta Pelatihan Maintenance PLTS Hybrid untuk Pemdes”. Tyo  – demikian dia biasa dipanggil – mengatakan dari permasalahan yang dihadapi berdasarkan kondisi eksisting, pengelolaan wisata mangrove umumnya masih dilakukan secara konvensional, bergantung pada energi listrik PLN dan genset diesel, belum didukung sistem pemantauan lingkungan berbasis data, serta memiliki  keterbatasan fasilitas  pendukung dan rendahnya literasi teknologi di kalangan masyarakat. “Kedatangan kami ke sini adalah ingin mengembangkan wisata mangrove berbasis energi terbarukan dan Internet of Things (IoT) guna mendukung pengelolaan  kawasan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” katanya.

Usai pemaparan, dilakukan  Focus Group Discussion untuk mendapatkan umpan balik pelaksanaan PPDB 2026 yang dipimpin oleh Andy Hamim Zaidan MSi, PhD dan dipandu Prof  Dr Ni’matuzahroh. nti

Pos terkait